Beratus-ratus
tahun yang lalu ada seorang raja dan ratu yang memiliki seorang putri yang
sangat cantik. Kini sang putri sudah beranjak dewasa dan sudah saatnya untuk
menikah. Raja mengadakan sayembara bahwa siapapun yang bisa mengambil cincin
yang ada di jari manis sang putri tanpa ketahuan, boleh menikahi putri.
Semua
pemuda dari seluruh penjuru negeri memutar otak untuk bisa memenangkan
sayembara, Namun sejauh ini belum ada yang bisa memikirkan bagaimana melepaskan
cincin dari jari putri tanpa diketahui. Masalahnya putri tidak pernah jauh dari
ayahnya. Kemanapun putri pergi, raja pasti menyertainya.
Suatu
hari seorang tukang bernama Fedko datang menemui raja.
“Paduka,
saya bisa mengambil cincin tuan putri,” katanya.
“Lakukan!
Dan putriku jadi milikmu!” kata raja.
Lalu
Fedko pergi menemui pamannya di desa.
“Saya
harus bisa mengambil cincin sang putri, tapi sepertinya sangat sulit karena
putri selalu berada di dalam istana dan selalu dijaga ketat,” kata fedko.
Paman
Fedko berusaha menolong fedko. Dia berpikir dan berpikir. Lalu pada hari ketiga
dia berkata kepada Fedko.
“Kita
harus membuat jam yang sangat besar sehingga kamu bisa masuk ke dalamnya. Lalu
kau harus memainkan musik dengan serulingmu. Saat putri mendengarnya, dia pasti
akan membeli jam ini.”
Selama
seminggu Fedko dan pamannya bekerja keras untuk membuat jam yang sangat besar.
Setelah selesai paman Fedko mengunci Fedko di dalam jam tersebut, lalu
membawanya ke alun-alun untuk dijual.
Kebetulan
saat itu di alun-alun sedang diadakan perayaan. Maka suasana disana pun sangat
ramai. Raja dan putri pun datang ke acara tersebut. Saat mereka melewati tempat
dimana jam berisi Fedko berada, putri mendengar tiupan seruling yang sangat
merdu.
“Wah
merdu sekali suara seruling ini. Ayah, saya ingin jam itu,” kata putri.
Raja lalu
menukar jam besar itu dengan sekantung uang emas. Dan para pelayan membawa jam
besar tersebut ke dalam kamar sang putri.
Putri
sangat senang sehingga dia duduk seharian di depan jam, dan menikmati alunan
seruling Fedko. Saat putri tertidur, Fedko keluar dari jam dan mencuri cincin
di jari putri lalu kembali masuk ke dalam jam.
Esoknya
Fedko kembali meniup serulingnya, tapi karena sudah kelelahan maka irama yang
dimainkannya tidak semerdu kemarin, lalu beberapa saat kemudian Fedko berhenti
meniup serulingnya.
Putri
bergegas menemui ayahnya.
“Jamnya
rusak ayah! Musiknya berhenti,” tangisnya
“Aku akan
memanggil penjualnya, dia pasti bisa memperbaikinya,” kata raja.
Raja
segera memanggil paman Fedko. Lalu paman Fedko membawa jam tersebut kembali ke
rumahnya dan mengeluarkan Fedko dari dalamnya. Setelah memperbaiki jam tesebut
sehingga tetap bisa mengeluarkan musik tanpa Fedko di dalamnya, paman Fedko
mengantarkan kembali jam tersebut ke istana.
Suatu
hari raja menyadari bahwa cincin sang putri telah hilang.
“Saya
tidak tahu ayah, mungkin ada seseorang yang mencurinya,” kata putri.
Raja
segera menyuruh para pelayan menyebarkan pengumuman untuk mengundang orang yang
telah berhasil mengambil cincin sang putri.
Fedko
segera datang ke istana dan menyerahkan cincin putri yang dicurinya. Raja
menepati janjinya dan menikahkan Fedko dengan putri. Pesta besar-besaran pun
digelar. Dan Itulah akhir dari cerita ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar