Jumat, 12 April 2013

CUBLAK-CUBLAK SUWENG, SEBUAH AJARAN MAKNA KEHIDUPAN DALAM BENTUK DOLANAN



Segerombolan anak kecil memindahkan biji atau batu kecil dari telapak yang satu ke telapak yang lain. Hal itu dilakukan di atas punggung temannya yang posisinya tengkurap. Jadi punggung temannya itu dijadikan meja permainan. Sambil bermain mereka menyanyikan lagu Cublak-cublak Suweng.

cublak suweng suwengira,
sigelenter mambu ketundhung mundhing,

empak empong lira-liru,
iyeku swasananta,
mlebu metu ingaran lira-liru,
ing suwung kang mengku ana,
mungguh sajroning ngaurip
(Sunan Kalijaga)


Setelah lagu itu selesai, batu yang diputarkan sudah berada di salah satu tangan seorang anak. Temannya yang tengkurap kemudian menebak kira-kira siapa yang memegang batu itu. Jika tebakannya benar, maka posisinya tengkurap digantikan oleh temannya yang telah ditebak tersebut.

Hidup dan nafas tidak dapat dipisahkan. Lukisan nafas bisa dirunut dari pengertian kata Cublak yang artinya wadah, suwenge berasal dari kata suwung (ruang yang berudara tapi sepi/ sunyi), sigelenter maksudnya jalan terus tiada henti, mundhing yaitu kerbau atau gudel (anak kerbau). Kalau diartikan semuanya adalah manusia hidup mesti ada nafas yang keluar masuk karena manusia itu bodoh seperti kerbau, karena tidak dapat melihat semua tadi padahal sudah jelas ada, ada yang tidak kelihatan atau tampak. Padahal nafas itu ada di dalam tubuh manusia. Keluar masuk tadi sebenarnya sudah biasa, tetapi manusia tidak sadar atau memahami yang sebenarnya ada yang mengatur nafas tadi, yaitu Allah Yang Maha Melihat. Disitulah di bulan puasa itu manusia diminta dan disuruh untuk sadar terhadap asal usul sehingga menambah bekal ibadah kepada Allah. Oleh karena itu manusia didalam menghadapai kehidupan ini harus dapat memegang hakekat hidup, hidup tidak harus senang-senang saja, hidup itu harus dijalani dengan rasa senang. Jangan suka berlebihan, nanti akan menimbulkan lupa diri. Yang lebih baik memahami asal usul kejadian, manusia akan mendapatkan kesadaran yang lebih kalau hidup itu harus dijalani dengan ibadah.

Kemajuan teknologi di zaman modern ini telah mengubah perilaku masyarakat terutama anak-anak. Permainan tradisional yang dulu sering kita jumpai di setiap sudut kampung kini tak ada lagi. Sebagai gantinya anak-anak sudah dimanjakan dengan permainan modern. Padahal dolanan dan permainan anak tradisional memiliki filosofi tinggi dan bermanfaat bagi perkembangan sekaligus pertumbuhan anak. Ada beberapa hal menarik dari sejumlah dolanan anak. Permainan anak selalu melahirkan suasana suka cita. Di dalam permainan ini jiwa anak akan terlihat secara penuh. Suasana suka cita yang dibangun akan melahirkan dan menghasilkan kebersamaan yang tidak dimiliki permainan modern. Inilah benih guyub rukun yang akan tumbuh di masyarakat. Jika saat ini dolanan anak sudah mulai menghilang tetapi kita masih dapat menemukan dokumen-dokumennya. Di dalam dokumen itu kita bisa melihat bagaimana adiluhungnya permainan tradisional di kala itu. Baik dolanan yang menggunakan alat maupun dolanan anak tanpa alat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar